Minggu, 23 November 2014

Mimpi: Ke... Siberia?????



            Mimpi itu datangnya tidak bisa diprediksi. Misalnya, ketika kita ingin memimpikan sesuatu hal, kadang tidak terjadi. Menjadi hal yang lumrah ketika kita memikirkan sesuatu secara terus-menerus, jadilah memimpikan hal tersebut. Tapi, yang terjadi pada saya yaitu mimpi yang datangnya tak terduga. Kurang lebih dua hari yang lalu, saya mendapatkan mimpi yang lumayan aneh, lucu, menarik, dan complicated. Karena mimpi itu sampai sekarang masih bisa saya ingat, saya jadi tergerak untuk menuliskannya. Biarpun ada yang bilang kalau mimpi diceritakan itu nantinya kita tidak akan mengalami mimpi yang sama. Ah, it’s ok sih menurut saya. Kalau mimpi sudah tertuang dalam tulisan kan bisa jadi kenang-kenangan pernah bermimpi semacam ini, kan? Ok, langsung saja masuk ke bagian mimpi saya....


            Waktu itu jam dalam mimpi menunjukkan pukul 14.30. Karena saya masih dalam masa PPL, mimpi itu berada dalam keadaan sehabis PPL. Saya pulang bersama salah satu teman saya. Di tengah perjalanan (jalan kaki), teman saya mengajak naik bus. Dia bilang mau mengajak saya ke Siberia. Omigod, Siberia???? Naik bus? Dia bilang Siberia itu dekat, hanya satu jam perjalanan dari sini (sini maksudnya lokasi awal pen-stop-an bus). Saya tidak percaya begitu saja. Tapi ternyata benar, kurang lebih satu jam kemudian, yaitu jam 15.30, kami benar-benar sampai Siberia. Ketika sampai di Siberia pun saya belum percaya kalau saat ini sudah menginjakkan kaki di negara tersebut. Dalam mimpi saya, Siberia itu mirip sekali dengan ex-lokasi KKN kemarin. Ah, namanya juga mimpi, jadi ya serba aneh dan lucu. Saya pun berjalan sambil tengok kanan kiri dan masih bertanya-tanya benarkah saya sampai di Siberia? Tanpa disadari, ternyata saya hanya berjalan sendiri tanpa teman yang tadi berangkat bersama naik bus. Tiba-tiba di depan saya ada sekumpulan orang yang sedang konkow konkow alias ngobrol. Saya pun bertanya, benarkah saya sampai di Siberia? Mereka pun menjawab benar, dengan bahasa Indonesia. Hloooo????? Masih belum percaya, saya pun meneruskan langkah sampai saya masuk ke sebuah rumah. Dari dalam rumah keluarlah seseorang –yang sepertinya si empunya rumah—memberi tahu dahulu sebelum saya sempat bertanya. Dia bilang benar kalau saya berada di Siberia. Langsung muncul entah darimana, teman saya pun berjalan disamping saya dan kekeuh membenarkan keraguan saya. Dia pun memberi bukti kalau ada Green Day di sini (atau mungkin 30 Seconds to Mars, karena visual mimpi emang agak aneh, jadi serasa campuran antara Green Day dan 30 Seconds to Mars. Mungkin karena kedua band tersebut sama-sama terdiri dari 3 orang). Diberitahu hal itu, saya pun jadi mantap kalau detik itu benar-benar menginjakkan kaki di tanah Siberia.
            Dengan santai, saya pun mendatangi perkumpulan tadi yang katanya  Green Day/30 Seconds to Mars. Mereka pun mulai bernyanyi dengan posisi instrumen masing-masing. Saya ikut bergabung dan duduk tepat di depan sang vokalis. Vokalisnya ini tampak aneh. Wajahnya perpaduan antara Billie Joe Armstrong dan Jared Leto. Berubah-ubah. Kadang wajah Billie, kadang wajah Jared, bahkan kadang perpaduan keduanya. Lagu yang dinyanyikan pun perpaduan 21 Guns dan Up in the Air. Anehnya, saya bisa mengikuti lantunan lagu dan musik yang dimainkan. Sang vokalis yang bernyanyi sambil main gitar pun sempat saya tanya, “What kind of stuff is that?” Saya menanyakan alat apa yang dia gunakan untuk memetik gitar. Dia jawab, “It’s stick”, begitulah dia menjawab. Sembari lagu dan musik mengalun, saya keluarkan kamera digital dari dalam tas untuk mengambil gambar keindahan bangunan Siberia disekitar tempat nongkrong ini. Sebelum sempat mengambil foto, si vokalis bertanya, “What you take around here?” (karena cuma mimpi, bahasanya pun sekenanya). Saya menimpali, tapi malah bicara berbarengan, “Nothing interest around here.” Saya tetap mengambil foto untuk saya perlihatkan ke teman-teman saya nantinya kalo sekarang benar-benar berada di Siberia. Lalu, pandangan saya terarah ke sebuah gedung yang kelihatan paling menonjol dari gedung lainnya. Di bagian atas gedung itu terdapat sebuah tulisan besar, seingat saya 6 huruf, tapi ketika akan saya baca, huruf itu malah semakin buram dan tak terbaca.
            Saya dan teman pun melangkahkan kaki ke tempat selanjutnya. Waktu itu diajak ke sebuah tempat oleh si gitaris. Anehnya, kami diajak masuk ke sebuah tanah lapang ber-paving halus yang mirip area penggilingan padi, ada mesinnya juga. Di sekitar mesin besar itu, banyak anak-anak menari balet dan bersepatu roda. Beberapa saat kemudian, ponsel saya berdering. Ternyata teman saya di lokasi PPL yang menelpon.
“Kamu sekarang lagi dimana?”
“Uhm,” sambil melirik teman di sebelah saya, “lagi di Siberia, Mbak.”
Telpon pun terputus tiba-tiba.
            Entah bagaimana ceritanya, kami berdua pun sampai di pasar, yang sekaligus jalan raya dan terminal. Tempat itu sangat ramai dan padat dengan orang serta lalu lalang kendaraan. Sambil menunggu kedatangan bus menuju lokasi PPL, kami membeli es krim yang bentuknya seperti puncak Monas. Sedetik kemudian bus yang ditunggu datang. Seperti naik alatnya Doraemon, kami pun secara mendadak sampai di lokasi PPL. Saya bercerita kalau tadi baru datang dari Siberia. Untuk membuat teman saya itu percaya, saya pun menunjukkan foto-foto yang pernah saya ambil. Dengan ngototnya, saya menjelaskan kepadanya kalo gedung-gedung itu benar berada di Siberia. ‘Cause it’s just a dream, teman saya itu hanya diam mendengarkan cerita saya. Lagi-lagi keanehan terjadi, dia bilang itu hanya mimpi. Saya membenarkan kalau itu hanya mimpi. Tapi, foto-foto yang saya ambil itu nyata dari Siberia. Maksudnya... Dia bilang, “ah itu kan cuma mimpi.” Saya menjawab, “iya itu emang mimpi. Tapi liat ini foto-foto yang saya ambil kan nyatanya ada di kamera saya. ini liat deh.” Uhm, such a weird dream, right? Kadang begini, tiba-tiba begitu. Waktu bermimpi itu, rasanya kaki tidak menginjak tanah alias mengambang ala ala terbang 20 cm dari tanah :D  Ah, namanya juga mimpi, jadi ya begitu, aneh dan berantakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar