Mimpi
itu datangnya tidak bisa diprediksi. Misalnya, ketika kita ingin memimpikan
sesuatu hal, kadang tidak terjadi. Menjadi hal yang lumrah ketika kita
memikirkan sesuatu secara terus-menerus, jadilah memimpikan hal tersebut. Tapi,
yang terjadi pada saya yaitu mimpi yang datangnya tak terduga. Kurang lebih dua
hari yang lalu, saya mendapatkan mimpi yang lumayan aneh, lucu, menarik, dan complicated.
Karena mimpi itu sampai sekarang masih bisa saya ingat, saya jadi tergerak
untuk menuliskannya. Biarpun ada yang bilang kalau mimpi diceritakan itu
nantinya kita tidak akan mengalami mimpi yang sama. Ah, it’s ok sih
menurut saya. Kalau mimpi sudah tertuang dalam tulisan kan bisa jadi
kenang-kenangan pernah bermimpi semacam ini, kan? Ok, langsung saja
masuk ke bagian mimpi saya....
Waktu
itu jam dalam mimpi menunjukkan pukul 14.30. Karena saya masih dalam masa PPL,
mimpi itu berada dalam keadaan sehabis PPL. Saya pulang bersama salah satu
teman saya. Di tengah perjalanan (jalan kaki), teman saya mengajak naik bus. Dia
bilang mau mengajak saya ke Siberia. Omigod, Siberia???? Naik bus? Dia bilang
Siberia itu dekat, hanya satu jam perjalanan dari sini (sini maksudnya lokasi
awal pen-stop-an bus). Saya tidak percaya begitu saja. Tapi ternyata
benar, kurang lebih satu jam kemudian, yaitu jam 15.30, kami benar-benar sampai
Siberia. Ketika sampai di Siberia pun saya belum percaya kalau saat ini sudah
menginjakkan kaki di negara tersebut. Dalam mimpi saya, Siberia itu mirip
sekali dengan ex-lokasi KKN kemarin. Ah, namanya juga mimpi, jadi ya
serba aneh dan lucu. Saya pun berjalan sambil tengok kanan kiri dan masih
bertanya-tanya benarkah saya sampai di Siberia? Tanpa disadari, ternyata saya
hanya berjalan sendiri tanpa teman yang tadi berangkat bersama naik bus. Tiba-tiba
di depan saya ada sekumpulan orang yang sedang konkow konkow alias
ngobrol. Saya pun bertanya, benarkah saya sampai di Siberia? Mereka pun
menjawab benar, dengan bahasa Indonesia. Hloooo????? Masih belum percaya, saya
pun meneruskan langkah sampai saya masuk ke sebuah rumah. Dari dalam rumah keluarlah
seseorang –yang sepertinya si empunya rumah—memberi tahu dahulu sebelum saya
sempat bertanya. Dia bilang benar kalau saya berada di Siberia. Langsung muncul
entah darimana, teman saya pun berjalan disamping saya dan kekeuh membenarkan
keraguan saya. Dia pun memberi bukti kalau ada Green Day di sini (atau mungkin
30 Seconds to Mars, karena visual mimpi emang agak aneh, jadi serasa campuran
antara Green Day dan 30 Seconds to Mars. Mungkin karena kedua band tersebut
sama-sama terdiri dari 3 orang). Diberitahu hal itu, saya pun jadi mantap kalau
detik itu benar-benar menginjakkan kaki di tanah Siberia.
Dengan
santai, saya pun mendatangi perkumpulan tadi yang katanya Green Day/30 Seconds to Mars. Mereka pun
mulai bernyanyi dengan posisi instrumen masing-masing. Saya ikut bergabung dan
duduk tepat di depan sang vokalis. Vokalisnya ini tampak aneh. Wajahnya perpaduan
antara Billie Joe Armstrong dan Jared Leto. Berubah-ubah. Kadang wajah Billie,
kadang wajah Jared, bahkan kadang perpaduan keduanya. Lagu yang dinyanyikan pun
perpaduan 21 Guns dan Up in the Air. Anehnya, saya bisa mengikuti
lantunan lagu dan musik yang dimainkan. Sang vokalis yang bernyanyi sambil main
gitar pun sempat saya tanya, “What kind of stuff is that?” Saya
menanyakan alat apa yang dia gunakan untuk memetik gitar. Dia jawab, “It’s
stick”, begitulah dia menjawab. Sembari lagu dan musik mengalun, saya
keluarkan kamera digital dari dalam tas untuk mengambil gambar keindahan
bangunan Siberia disekitar tempat nongkrong ini. Sebelum sempat mengambil foto,
si vokalis bertanya, “What you take around here?” (karena cuma mimpi,
bahasanya pun sekenanya). Saya menimpali, tapi malah bicara berbarengan, “Nothing
interest around here.” Saya tetap mengambil foto untuk saya perlihatkan ke
teman-teman saya nantinya kalo sekarang benar-benar berada di Siberia. Lalu,
pandangan saya terarah ke sebuah gedung yang kelihatan paling menonjol dari
gedung lainnya. Di bagian atas gedung itu terdapat sebuah tulisan besar,
seingat saya 6 huruf, tapi ketika akan saya baca, huruf itu malah semakin buram
dan tak terbaca.
Saya
dan teman pun melangkahkan kaki ke tempat selanjutnya. Waktu itu diajak ke
sebuah tempat oleh si gitaris. Anehnya, kami diajak masuk ke sebuah tanah
lapang ber-paving halus yang mirip area penggilingan padi, ada mesinnya juga. Di
sekitar mesin besar itu, banyak anak-anak menari balet dan bersepatu roda.
Beberapa saat kemudian, ponsel saya berdering. Ternyata teman saya di lokasi
PPL yang menelpon.
“Kamu sekarang lagi dimana?”
“Uhm,” sambil melirik teman di
sebelah saya, “lagi di Siberia, Mbak.”
Telpon pun terputus tiba-tiba.
Entah
bagaimana ceritanya, kami berdua pun sampai di pasar, yang sekaligus jalan raya
dan terminal. Tempat itu sangat ramai dan padat dengan orang serta lalu lalang
kendaraan. Sambil menunggu kedatangan bus menuju lokasi PPL, kami membeli es
krim yang bentuknya seperti puncak Monas. Sedetik kemudian bus yang ditunggu datang.
Seperti naik alatnya Doraemon, kami pun secara mendadak sampai di lokasi PPL. Saya
bercerita kalau tadi baru datang dari Siberia. Untuk membuat teman saya itu
percaya, saya pun menunjukkan foto-foto yang pernah saya ambil. Dengan ngototnya,
saya menjelaskan kepadanya kalo gedung-gedung itu benar berada di Siberia. ‘Cause
it’s just a dream, teman saya itu hanya diam mendengarkan cerita saya. Lagi-lagi
keanehan terjadi, dia bilang itu hanya mimpi. Saya membenarkan kalau itu hanya
mimpi. Tapi, foto-foto yang saya ambil itu nyata dari Siberia. Maksudnya... Dia
bilang, “ah itu kan cuma mimpi.” Saya menjawab, “iya itu emang mimpi. Tapi liat
ini foto-foto yang saya ambil kan nyatanya ada di kamera saya. ini liat deh.” Uhm,
such a weird dream, right? Kadang begini, tiba-tiba begitu. Waktu bermimpi
itu, rasanya kaki tidak menginjak tanah alias mengambang ala ala terbang 20 cm
dari tanah :D Ah, namanya juga mimpi,
jadi ya begitu, aneh dan berantakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar