Jumat, 21 November 2014

Cerita PPL

            Awal Oktober kemarin saya mulai disibukkan dengan kegiatan PPL (praktek pengalaman lapangan). Uhm, maklum sih, menjelang semester akhir pasti ada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan program kampus dan program jurusan. Kalo KKN kemarin ‘praktek’ hidup bermasyarakat, PPL ini mempraktekkan teori yang didapat selama kuliah 6 semester kemarin. Biarpun nantinya keadaan lapangan berbelok dengan teori yang udah didapatkan. Pada post kali ini saya ngga akan cerita panjang lebar tentang apakah PPL itu, tapi yang akan saya ceritakan yaitu sedikit pengalaman ketika berada di lokasi PPL.  


Ada banyak tempat yang direkomendasikan sama pihak jurusan, yang kelompok saya pilih yaitu di Perpustakaan Keraton Yogyakarta. Itung-itung sekalian piknik sih di sana, dulu sambil milih lokasi gitu mikirnya. Lama-kelamaan karena tiap hari datang ke sana, jadinya bosen sendiri juga yang dilihat itu melulu.
            Perpustakaan Keraton Yogyakarta berada di ujung kompleks. Tepatnya di sebelah museum HB IX. Nah, di sana ada gerbang kecil dengan tag: NO ENTRANCE. Iya sih gitu tag-nya, tapi kan kami masuk secara legal :D  Sebenarnya saya bukan di perpustakaannya, tapi di bagian arsip. Di sana banyak menyimpan manuskrip dan dokumen penting milik keraton. Termasuk juga manuskrip-manuskrip yang sudah ‘dikeramatkan’.
            Di sana, kami mengolah buku [memberi label buku, mengklasifikasikan buku, menata kembali buku-buku yang tidak pada tempatnya, dan pekerjaan lain terkait perpustakaan] yang sekiranya masih bagus untuk digunakan. Selain banyak manuskrip, banyak pula buku-buku umum, jurnal kebudayaan, naskah digitalisasi, dan lain-lain.
Model Arsitektur | Ceritanya...
            Seperti bangunan model kuno pada umumnya, perpustakaan yang saya tempati juga masih mempertahankan arsitektur ala jaman dulu, yaitu dengan pintu-pintu yang tingginya sekitar 3 sampai 5 meter, dan jendela-jendela yang tingginya hampir sama kayak pintu. Bisa ditebak sendiri deh seberapa tinggi temboknya.
            Salah satu tugas kami di sana yaitu membuat inventaris semua buku yang ada kemudian membuat labelnya untuk memudahkan pemustaka atau pengunjung yang ingin mencari buku yang diinginkan. Mengikuti perintah pihak perpustakaan, kami memberi label buku secara sederhana. Mereka bilang, buku-buku yang diolah sebelumnya menggunakan teori ilmu perpustkaan itu terlalu rumit. Jadilah kami buat label sederhana sesuai instruksi pihak perpustakaan.
            Intinya, pekerjaan kami selama 4 hari kerja hampir selalu seperti itu. Flat. Tapi ngga apa-apalah, yang penting nantinya kami bisa ‘menyulap’ perpustakaan ini menjadi ‘lebih indah’ dari sebelumnya :D  Di antara pekerjaan yang flat itu, ada pengalaman unik yang kami rasakan. Kami mendata semua buku yang akan diberi label dengan cukup teliti. Satu per satu lemari berisi banyak buku didata. Hari berikutnya, kami mulai menempelkan label keterangan buku di pada punggung buku. Dari awal menempelkan label buku, tidak ada hal aneh nan mencurigakan. Ketika label tersisa dan buku sudah lengkap tertempel label, kami baru mikir: “hlo, kemarin saya ingat banget kok kalo bikin label buat buku yang judulnya ini. Tapi kok bukunya jadi ngga ada sih. Perasaan kemarin juga ditaruh bareng sama buku-buku yang ini”. Setiap mendata buku lalu membuatkan label, pasti ada aja buku yang hilang. Labelnya dibuat karena dalam data buku yang udah dibuat, buku yang dimaksud emang ada, pernah dipegang, dan diteliti cover verso-nya. Kalo udah selesai menempelkan label, buku-bukunya ditata sedemikian rupa biar mudah ditemukan lagi. Meski udah diteliti satu per satu, sebelum ditata di lemari, buku yang dimaksd tetap raib. Ngga tahu lah kemana larinya itu buku. Beberapa kali kami mengalami kejadian kayak gitu. Saya pribadi juga pernah mengalaminya. Jadi waktu itu saya pernah mendata buku yang berjudul “Di Lembur Kuring”. Saya ingat sekali detail buku yang saya pegang itu. Tapi ternyata saya kurang teliti dan melewatkan label untuk buku itu. Sebelum mulai menempel label saya bilang ke teman saya kalo ada satu buku yang lupa saya buatkan label. Tak disangka, label yang ditempel sudah sama jumlahnya dengan buku yang ada. Ketika itu saya jadi mikir lama, masak sih ngga ada buku yang kelewatan? Kan kemarin udah saya teliti kalo label buku yang saya buat sesuai sama jumlah buku yang saya data, tapi kelewatan satu. Hari berikutnya saya masih lupa membuat label untuk buku itu. Dan hari itu emang bukunya masih raib. Hal ajaib pun terjadi, bukunya tiba-tiba ketemu di deretan lemari paling bawah. Eh sebentar, perasaan kemarin buku-buku sejenis yang udah didata itu kan diletakkan di lemari deretan kedua? Kok sekarang ada di deretan bawah? Bukannya deretean bawah kemarin juga belum disentuh sama sekali? Sampe-sampe temen saya pada mikir, kayaknya kita dikerjain sama ‘penghuni’ sini deh hahahaa...
            Bukan hanya sekali kami mengalami kejadian semacam itu. Bahkan hampir setiap hari. Tapi saya mikir positifnya aja lah. Kayaknya itu emang kami yang kurang teliti, jadi buku yang kemarin didata, ngga sengaja dipindahkan ke tempat yang beda dengan buku yang lain, akhirnya entah ada di mana itu buku. Saya jadi gemes kalo ada kejadian itu. Kok bisa sih? Sudahlah, biarkan itu  jadi cerita unik selama PPL ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar