Awal
Oktober kemarin saya mulai disibukkan dengan kegiatan PPL (praktek pengalaman
lapangan). Uhm, maklum sih, menjelang semester akhir pasti ada
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan program kampus dan program jurusan.
Kalo KKN kemarin ‘praktek’ hidup bermasyarakat, PPL ini mempraktekkan teori
yang didapat selama kuliah 6 semester kemarin. Biarpun nantinya keadaan
lapangan berbelok dengan teori yang udah didapatkan. Pada post kali ini
saya ngga akan cerita panjang lebar tentang apakah PPL itu, tapi yang akan saya
ceritakan yaitu sedikit pengalaman ketika berada di lokasi PPL.
Ada banyak
tempat yang direkomendasikan sama pihak jurusan, yang kelompok saya pilih yaitu
di Perpustakaan Keraton Yogyakarta. Itung-itung sekalian piknik sih di sana,
dulu sambil milih lokasi gitu mikirnya. Lama-kelamaan karena tiap hari datang
ke sana, jadinya bosen sendiri juga yang dilihat itu melulu.
Perpustakaan
Keraton Yogyakarta berada di ujung kompleks. Tepatnya di sebelah museum HB IX.
Nah, di sana ada gerbang kecil dengan tag: NO ENTRANCE. Iya sih gitu tag-nya,
tapi kan kami masuk secara legal :D
Sebenarnya saya bukan di perpustakaannya, tapi di bagian arsip. Di sana
banyak menyimpan manuskrip dan dokumen penting milik keraton. Termasuk juga
manuskrip-manuskrip yang sudah ‘dikeramatkan’.
Di
sana, kami mengolah buku [memberi label buku, mengklasifikasikan buku, menata
kembali buku-buku yang tidak pada tempatnya, dan pekerjaan lain terkait
perpustakaan] yang sekiranya masih bagus untuk digunakan. Selain banyak
manuskrip, banyak pula buku-buku umum, jurnal kebudayaan, naskah digitalisasi,
dan lain-lain.
Model Arsitektur |
Ceritanya...
Seperti
bangunan model kuno pada umumnya, perpustakaan yang saya tempati juga masih
mempertahankan arsitektur ala jaman dulu, yaitu dengan pintu-pintu yang
tingginya sekitar 3 sampai 5 meter, dan jendela-jendela yang tingginya hampir
sama kayak pintu. Bisa ditebak sendiri deh seberapa tinggi temboknya.
Salah
satu tugas kami di sana yaitu membuat inventaris semua buku yang ada kemudian
membuat labelnya untuk memudahkan pemustaka atau pengunjung yang ingin mencari
buku yang diinginkan. Mengikuti perintah pihak perpustakaan, kami memberi label
buku secara sederhana. Mereka bilang, buku-buku yang diolah sebelumnya
menggunakan teori ilmu perpustkaan itu terlalu rumit. Jadilah kami buat label
sederhana sesuai instruksi pihak perpustakaan.
Intinya,
pekerjaan kami selama 4 hari kerja hampir selalu seperti itu. Flat. Tapi
ngga apa-apalah, yang penting nantinya kami bisa ‘menyulap’ perpustakaan ini
menjadi ‘lebih indah’ dari sebelumnya :D Di antara pekerjaan yang flat itu, ada
pengalaman unik yang kami rasakan. Kami mendata semua buku yang akan diberi
label dengan cukup teliti. Satu per satu lemari berisi banyak buku didata. Hari
berikutnya, kami mulai menempelkan label keterangan buku di pada punggung buku.
Dari awal menempelkan label buku, tidak ada hal aneh nan mencurigakan. Ketika
label tersisa dan buku sudah lengkap tertempel label, kami baru mikir: “hlo,
kemarin saya ingat banget kok kalo bikin label buat buku yang judulnya ini.
Tapi kok bukunya jadi ngga ada sih. Perasaan kemarin juga ditaruh bareng sama
buku-buku yang ini”. Setiap mendata buku lalu membuatkan label, pasti ada aja
buku yang hilang. Labelnya dibuat karena dalam data buku yang udah dibuat, buku
yang dimaksud emang ada, pernah dipegang, dan diteliti cover verso-nya.
Kalo udah selesai menempelkan label, buku-bukunya ditata sedemikian rupa biar
mudah ditemukan lagi. Meski udah diteliti satu per satu, sebelum ditata di
lemari, buku yang dimaksd tetap raib. Ngga tahu lah kemana larinya itu buku.
Beberapa kali kami mengalami kejadian kayak gitu. Saya pribadi juga pernah
mengalaminya. Jadi waktu itu saya pernah mendata buku yang berjudul “Di Lembur
Kuring”. Saya ingat sekali detail buku yang saya pegang itu. Tapi ternyata saya
kurang teliti dan melewatkan label untuk buku itu. Sebelum mulai menempel label
saya bilang ke teman saya kalo ada satu buku yang lupa saya buatkan label. Tak
disangka, label yang ditempel sudah sama jumlahnya dengan buku yang ada. Ketika
itu saya jadi mikir lama, masak sih ngga ada buku yang kelewatan? Kan kemarin
udah saya teliti kalo label buku yang saya buat sesuai sama jumlah buku yang
saya data, tapi kelewatan satu. Hari berikutnya saya masih lupa membuat label
untuk buku itu. Dan hari itu emang bukunya masih raib. Hal ajaib pun terjadi,
bukunya tiba-tiba ketemu di deretan lemari paling bawah. Eh sebentar, perasaan
kemarin buku-buku sejenis yang udah didata itu kan diletakkan di lemari deretan
kedua? Kok sekarang ada di deretan bawah? Bukannya deretean bawah kemarin juga
belum disentuh sama sekali? Sampe-sampe temen saya pada mikir, kayaknya kita
dikerjain sama ‘penghuni’ sini deh hahahaa...
Bukan
hanya sekali kami mengalami kejadian semacam itu. Bahkan hampir setiap hari. Tapi
saya mikir positifnya aja lah. Kayaknya itu emang kami yang kurang teliti, jadi
buku yang kemarin didata, ngga sengaja dipindahkan ke tempat yang beda dengan
buku yang lain, akhirnya entah ada di mana itu buku. Saya jadi gemes kalo ada
kejadian itu. Kok bisa sih? Sudahlah, biarkan itu jadi cerita unik selama PPL ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar