Hello,
everyone!
Kali ini saya mau cerita soal pengalaman saya yang cukup
mendebarkan dan menegangkan selama kemarin (16/9) menempuh perjalanan Solo –
Bojonegoro – Tuban – Bojonegoro – Ngawi – Sragen – Solo. Jadi kemarin itu
ceritanya kami rombongan 7 orang satu mobil menghadiri kondangan di rumah salah
satu tetangga kos di Bojonegoro, Jawa Timur. Kondangannya sih cuma sekitar 1
jam –dan saya pikir konsep resepsi di daerah sana jauh beda dengan konsep yang
saya tahu di Solo—tapi karena di lokasi ketemu temen si empu acara, diajaklah
kami ke pantai cantik di daerah Tuban. Yang ngajak sih bilangnya Bojonegoro –
Tuban 1 jam aja. Eh, ternyata sampai lokasi malah terhitung 2 jam. Di pantai
yang disebut Pantai Remen itu, kami singgah selama kurang lebih 20 menit.
Yang penting
bisa main air plus foto-foto. Nah, setelah persinggahan beberapa menit
dari pantai itu, kami melanjutkan perjalanan pulang. Si bapak sopir bilang agak
nggak ngerti sama rute Tuban ini kecuali kalo lewat jalan menuju Rembang. Rute
normal arah Rembang urung dipilih karena mengingat rute itu harus muter sana
muter sini, jadi dipastikan akan ngalang (saya nggak ngerti bahasa ngalang
itu apa hihii). Dari dua pilihan
rute, pak sopir bilang pake maps-nya diarahkan aja ke arah Padangan.
Oke, maps berjalan, mobil pun mengikuti. Semua perintah dari maps diikuti. Awalnya, mobil lewat
jalan masuk perkampungan. Pemandangan yang tersaji pun cukup luar biasa. Ada semacam
roket artifisial yang siap diluncurkan, persawahan hijau dengan burung bangaunya yang terbang
ke sana ke mari, terasering, dan pohon-pohon jati yang sepertinya baru ditanam. Kami terpesona dengan pemandangan indah di desa tersebut. Setelah melaju
beberapa kilometer, mobil pun menemui jalan tengah gunung. Sekitar jam 16.30,
mobil kami mulai memasuki jalan tengah gunung di daerah Tuban. Awalnya, jalanan
masih ramai, banyak warga yang lewat membawa rerumputan dan hasil hutan, matahari
sore pun masih menampakkan teriknya.
Mengikuti rute di maps, tak disangka kami pun masuk ke
jalan di tengah hutan gunung itu. Nggak ada jalan lain selain jalan yang
kami lalui itu. Kalo mau puter balik sudah kepalang masuk hutan dengan jalan
yang cuma bisa dilewati satu mobil aja. Kalo pun bisa muter balik, harus masuk
hutan dulu untuk ambil jalan putar, dengan resiko terbesarnya adalah tersesat
jauh ke hutan (saya kok ngeri sendiri ya, membayangkan keadaan hutan itu
kemarin). Sudahlah yang ini saya cukup ngeri kalo dibayangkan, apalagi kalo kemarin
pak sopir nyalinya ciut untuk meneruskan perjalanan menembus hutan. Salah satu
teman saya pun berujar: “Pokonya sebelum maghrib kita harus segera keluar dari
hutan ini!” Perjalanan terus berlanjut ketika mobil melewati perkampungan
penduduk. Agak sedikit lega kalo kami menemui lampu-lampu di perkampungan. Agar
kami sedikit tenang, kami beristirahat sebentar untuk shalat maghrib
sekaligus isyak di sebuah masjid. Tak lama setelah melewati perkampungan
penduduk, kami pun kembali masuk ke jalan tengah hutan yang cukup gelap. Di
depan mobil kami, ada satu motor dan satu mobil yang melaju searah. Ada sedikit
kelegaan lagi. Menemui ada jalan tikungan, sekali lagi mobil kami menjadi mobil
satu-satunya yang melaju di tengah jalan hutan yang gelap gulita. Ketika melewati
jalan gelap nan sepi tersebut, kami semua hanya bisa berdoa semoga segera
keluar dari jalan hutan yang mengerikan ini. Di tengah perjalanan di hutan
gelap itu yang terlihat hanya pohon-pohon besar dengan semak-semak yang kering
dan bekas terbakar. Di sebelah kiri, nampak terlihat ada sepetak hutan terbakar. Beberapa
kilometer pun saya sendiri melihat ada api di tanah mengelilingi sebuah pohon. Namun pohon itu nggak seluruhnya terbakar. Saya jadi ngeri sendiri melihatnya. Puluhan kilometer sudah kami menembus jalan hutan. Berikutnya saya pun hanya bisa menutup mata. Nyali
sudah hilang untuk sekadar memandang hutan gelap di kiri kanan. Saya hanya bisa terus
berdoa semoga Allah Swt. melindungi kami, dan memudahkan jalan kami untuk
segera keluar dari tengah hutan gelap nan mengerikan itu.
Setelah puluhan kilometer
mobil kami melaju menembus hutan gelap nan ngeri, akhirnya kami pun menemui
jalan raya di daerah Padangan. Rasa syukur tidak henti kami panjatkan sebab sudah diberi keselamatan hingga ke jalan raya. Alhamdulillah si mobil juga baik-baik saja
selama menembus hutan.
Cukup sampe di sini aja cerita saya. Maaf kalo alurnya
terlalu cepat, ya teman-teman. Saya mengetik dan membayangkan
perjalanan kemarin malam dengan merinding.
Okay, sampai jumpa di cerita selanjutnya, yaa. See you
later...!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar