Minggu, 17 September 2017

Where were we?


 Hello, everyone!
Kali ini saya mau cerita soal pengalaman saya yang cukup mendebarkan dan menegangkan selama kemarin (16/9) menempuh perjalanan Solo – Bojonegoro – Tuban – Bojonegoro – Ngawi – Sragen – Solo. Jadi kemarin itu ceritanya kami rombongan 7 orang satu mobil menghadiri kondangan di rumah salah satu tetangga kos di Bojonegoro, Jawa Timur. Kondangannya sih cuma sekitar 1 jam –dan saya pikir konsep resepsi di daerah sana jauh beda dengan konsep yang saya tahu di Solo—tapi karena di lokasi ketemu temen si empu acara, diajaklah kami ke pantai cantik di daerah Tuban. Yang ngajak sih bilangnya Bojonegoro – Tuban 1 jam aja. Eh, ternyata sampai lokasi malah terhitung 2 jam. Di pantai yang disebut Pantai Remen itu, kami singgah selama kurang lebih 20 menit.  

Yang penting bisa main air plus foto-foto. Nah, setelah persinggahan beberapa menit dari pantai itu, kami melanjutkan perjalanan pulang. Si bapak sopir bilang agak nggak ngerti sama rute Tuban ini kecuali kalo lewat jalan menuju Rembang. Rute normal arah Rembang urung dipilih karena mengingat rute itu harus muter sana muter sini, jadi dipastikan akan ngalang (saya nggak ngerti bahasa ngalang  itu apa hihii). Dari dua pilihan rute, pak sopir bilang pake maps-nya diarahkan aja ke arah Padangan.
Oke, maps berjalan, mobil pun mengikuti. Semua perintah dari maps diikuti. Awalnya, mobil lewat jalan masuk perkampungan. Pemandangan yang tersaji pun cukup luar biasa. Ada semacam roket artifisial yang siap diluncurkan, persawahan hijau dengan burung bangaunya yang terbang ke sana ke mari, terasering, dan pohon-pohon jati yang sepertinya baru ditanam. Kami terpesona dengan pemandangan indah di desa tersebut. Setelah melaju beberapa kilometer, mobil pun menemui jalan tengah gunung. Sekitar jam 16.30, mobil kami mulai memasuki jalan tengah gunung di daerah Tuban. Awalnya, jalanan masih ramai, banyak warga yang lewat membawa rerumputan dan hasil hutan,  matahari sore pun masih menampakkan teriknya.
Mengikuti rute di maps, tak disangka kami pun masuk ke jalan di tengah hutan gunung itu. Nggak ada jalan lain selain jalan yang kami lalui itu. Kalo mau puter balik sudah kepalang masuk hutan dengan jalan yang cuma bisa dilewati satu mobil aja. Kalo pun bisa muter balik, harus masuk hutan dulu untuk ambil jalan putar, dengan resiko terbesarnya adalah tersesat jauh ke hutan (saya kok ngeri sendiri ya, membayangkan keadaan hutan itu kemarin). Sudahlah yang ini saya cukup ngeri kalo dibayangkan, apalagi kalo kemarin pak sopir nyalinya ciut untuk meneruskan perjalanan menembus hutan. Salah satu teman saya pun berujar: “Pokonya sebelum maghrib kita harus segera keluar dari hutan ini!” Perjalanan terus berlanjut ketika mobil melewati perkampungan penduduk. Agak sedikit lega kalo kami menemui lampu-lampu di perkampungan. Agar kami sedikit tenang, kami beristirahat sebentar untuk shalat maghrib sekaligus isyak di sebuah masjid. Tak lama setelah melewati perkampungan penduduk, kami pun kembali masuk ke jalan tengah hutan yang cukup gelap. Di depan mobil kami, ada satu motor dan satu mobil yang melaju searah. Ada sedikit kelegaan lagi. Menemui ada jalan tikungan, sekali lagi mobil kami menjadi mobil satu-satunya yang melaju di tengah jalan hutan yang gelap gulita. Ketika melewati jalan gelap nan sepi tersebut, kami semua hanya bisa berdoa semoga segera keluar dari jalan hutan yang mengerikan ini. Di tengah perjalanan di hutan gelap itu yang terlihat hanya pohon-pohon besar dengan semak-semak yang kering dan bekas terbakar. Di sebelah kiri, nampak terlihat ada sepetak hutan terbakar. Beberapa kilometer pun saya sendiri melihat ada api di tanah mengelilingi sebuah pohon. Namun pohon itu nggak seluruhnya terbakar. Saya jadi ngeri sendiri melihatnya. Puluhan kilometer sudah kami menembus jalan hutan. Berikutnya saya pun hanya bisa menutup mata. Nyali sudah hilang untuk sekadar memandang hutan gelap di kiri kanan. Saya hanya bisa terus berdoa semoga Allah Swt. melindungi kami, dan memudahkan jalan kami untuk segera keluar dari tengah hutan gelap nan mengerikan itu. 
Setelah puluhan kilometer mobil kami melaju menembus hutan gelap nan ngeri, akhirnya kami pun menemui jalan raya di daerah Padangan. Rasa syukur tidak henti kami panjatkan sebab sudah diberi keselamatan hingga ke jalan raya. Alhamdulillah si mobil juga baik-baik saja selama menembus hutan.
Cukup sampe di sini aja cerita saya. Maaf kalo alurnya terlalu cepat, ya teman-teman. Saya mengetik dan membayangkan perjalanan kemarin malam dengan merinding. 

Okay, sampai jumpa di cerita selanjutnya, yaa. See you later...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar