Tanggal 9 April 2014 nanti seluruh Indonesia serentak PEMILU, alias
pemilihan umum. Lebih tepatnya pemilu legislatif. Soalnya pemilihan presiden
masih beberapa bulan kemudian. Pemerintah butuh waktu buat printing kertas suara lagi hihiii… Nah, kehebohan pemilu sudah ada
beberapa bulan menjelang hari H. berbagai cerita pun mewarnai peristiwa jelang
pemilu nanti. Yang bikin visual jadi
sepet sih poster-poster dan baliho caleg. Dimana-mana ada gambar caleg. Haduh,
mata jadi ikutan warna warni gara-gara liat gambar kampanye caleg :D Kan
partai-partai di Indonesia juga beragam warna tuh. Ngomong-ngomong soal
kampanye, berbagai cara kampanye ditempuh. Caleg yang biasanya anti rakyat,
jadi merakyat
Nah, di dusun saya ada oknum caleg dari partai ‘itu’(saya sebut partai A
deh biar gampang) –yang dimana-mana massa-nya terkenal anarkis –mendatangi rumah-rumah
warga secara langsung buat minta suara. Ibu saya sih yang cerita kalo ada oknum
caleg yang kampanye model begitu. Eh bukan kampanye sih, nyuruh (lebih tepatnya
maksa) orang yang didatangi buat milih dia. Oknum itu membidik pemilih muda dan
pemilih pemula, ada juga pemilih lama yang ‘dipaksa’ (dalam arti sebenarnya). Padahal
di dusun saya biasanya udah ada satu partai yang dominan, maksudnya partai
dominan yang dipilih warga (call it partai
B). Jadi, setiap pemilu partai B menang. Tapi cerita berubah di pra pemilu 2014
kali ini. Yup, ada oknum caleg partai A tadi. Saya ngga tau sih apakah oknum
itu ‘main uang’ ketika mendatangi rumah-rumah penduduk. Yang pasti banyak warga
yang bilang iya kalo pada pemilu nanti milih oknum caleg itu dengan partainya,
partai A. Tapi ada juga beberapa rumah yang ngga didatangi. Mungkin rumah-rumah
yang dirasa penghuninya ‘pintar’, susah dipengaruhi, atau rumah orang penting. Tapi
yang jelas, oknum itu ngga berani datang ke rumah saya (gitu sih yang bilang
ibu). Jadi pengaruh utama saya, cuma ibu. Harus pilih partai ini lah, caleg
yang ini lah. Karena saya pemilih pemula (pertama milih waktu pemilu gubernur
hihii..), jadi ngikut parents aja lah
nanti pilih partai yang mana dan caleg yang mana. Lagipula, pemilu nanti harus
milih jenis wakil rakyat macam-macam, DPD & DPR (tapi kok contoh surat
suaranya ada banyak yang harus dipilih yak? *jadi tambah bingung*).
Di H-3 pemilu ini, saya pikir semakin was-was aja nih situasi dusun. Dikacaukan
sih, katanya. Dan ibu saya tadi bilang lagi, ternyata lokasi pemilu di tempat
yang sama seperti biasa. Di depan rumah pejabat dusun, tepatnya di perempatan
jalan tengah dusun. Nah biasanya bilik suara ditaruh di teras, yang tepat di
depan jendela kaca (kaca film, yang kalo dari luar cuma kaca gelap, tapi kalo
dari dalam keliatan jelas). So, what’s
the problem? Jadi, kata ibu saya, kalo nanti bilik suara tetap ditempatkan
di depan jendela, pasti ada indikasi bakalan diintip sama anteknya alias kaki
tangan oknum caleg partai A yang interrupt
hak pilih sebagian besar warga dusun itu. Soalnya, posisi bilik suara depan
(yang tertutup) itu di arah berlawanan sama kaca, lalu bilik utama (yang
terbuka) tepat mengahadap kaca. Biar lebih jelas, saya kasih contoh posisinya (di
bwah paragraph ini). Usulnya, bilik suara jangan ditempatkan di depan jendela. Wah,
semakin rumit aja nih pemilu
nanti -__-“
Menurut pikiran saya, kenapa diintip, karena mungkin warga yang sudah didatangi,
nanti harus milih oknum itu, karena warga juga udah bilang iya. Jadi kalo janji
harus ditepati. Kalo ngga milih oknum itu, ada kemungkinan kena amuk. Yah,
soalnya partai A emang terkenal punya massa yang anarkis, jadi kalo oknum
caleg-nya yang ngamuk karena ngga menang dan ngga dipilih warga yang udah ‘dipaksa’
sebelumnya, wajar sih *kenapa jadi sinis yak? :D * So, ini termasuk pelanggaran pemilu ngga ya?
*saya ngga ngerti, jadi banyak pertanyaan* :D Maybe YES !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar