Kamis, 13 Februari 2014

Just My Story...



Trik pedagang buat menjual barang yang dijajakan ada banyak banget. Hal itu dilakukan dengan tujuan supaya laris (gitu kali). Maksud saya trik pedagang sih tepatnya penentuan labanya seberapa, apakah cuma sedikit dari harga kulak (KBBI: membeli barang dl jumlah besar untuk dijual kembali), atau malah berkali-kali lipatnya. Nah oleh sebab itu saya pengen cerita sedikit soal ‘kelakuan’ pedagang terhadap barang yang dijajakannya (aiiih bahasanya). Yang pernah saya temui aja sih. 

Dari banyak pedagang yang saya temui, baik itu pemilik toko kelontong, tukang sayur, toko baju, toko perabot, toko aksesoris, dan lain-lain, mempunyai teori yang berbeda soal mengambil laba. Sebenarnya kalo pedagang di kampung halaman saya banyak yang pake prinsip dagang Cina (gitu sih yang pernah guru Ekonomi SMP bilang), ngga bakal ngga laris deh dagangannya. Pasti bakalan jadi pedagang MOST WANTED!!! Jadi prinsip dagang Cina itu mengedepankan laba yang sedikit tapi barang yang dijual cepat sold out. Uhm saya kasih contoh aja deh. Misalnya harga grosir roti tawar merk X Rp 4800, 00 dan pedagang kelontong menjual dengan harga Rp 5000, 00. Bagi orang yang tahu harga grosir roti tawar merk X sebesar itu, dan dijual kembali di toko Y tidak jauh dari harga grosir, orang itu otomatis akan ber-testimoni ke orang lain kalo di toko Y harga barang dagangannya tidak terlalu mahal. Dengan catatan, si pemilik toko tetap pada prinsipnya. Kalo sedikit aja dia meleng dari prinsip, mungkin aja pelanggannya memilih mencari toko dengan prinsip dagang Cina.
Langsung saya kasih contoh real deh (tapi lewat tulisan aja hihiii..) kalo pedagang yang berprinsip dagang Cina itu lebih cepat laku daripada prinsip ngawur alias menari laba sebesar-besarnya. Contoh yang saya liat sih toko kelontong tetangga sebelah. Toko kelontong yang di belakang rumah, saya kira ngga ngerti soal prinsip dagang Cina itu kayak gimana kalo misalnya ditanya, tapi dia menerapkan prinsip dagang Cina di toko kelontong miliknya. Sedangkan toko kelontong di pinggir kampung menerapkan prinsip pedagang pada umumnya yang mengambil laba sebanyak-banyaknya supaya cepat balik modal (kayak gitu sih menurut pandangan saya :D ). Karena toko yang di belakang rumah lebih mementingkan laba kecil tapi laris, toko itu cepat berkembang. Padahal yang saya tahu, baru kurang lebih 3 tahun usaha toko kelontong. Sedangkan toko di pinggir kampung yang menerapkan prinsip laba sebanyak-banyaknya, susah berkembang. Dari saya masih kecil sampe sekarang masih stuck dengan keadaan toko yang begitu-begitu aja. Jelas dong kalo orang-orang lebih milih toko kelontong yang belakang rumah saya daripada yang di pinggir kampung itu? Pembeli pasti bakalan membandingkan harga barang di toko satu dengan toko lain.
Ada juga pedagang lain yang terang-terangan menjajakan barangnya dengan laba setinggi mungkin dari harga kulakan. Pedagang itu pernah saya temui waktu saya dan teman saya mampir ke kampus sebelah. Lebih tepatnya pedagang kacamata yang sering mangkal di tepi jalan menuju kampus itu. Saya masih ingat banget apa yang dibilang pedagang itu soal prinsip berdagang. Niatnya beli kacamata, malah ngobrol ngalor ngidul. Uhm, selingan tawar-menawar lah. Jadi waktu itu pedagangnya bilang, “Membeli dengan harga minimal dan menjual kembali dengan harga maksimal”, wew gila juga ya prinsipnya. Pantesan aja sepi pembeli. Sebelumnya saya bilang kalo misalnya pedagang pake prinsip dagang Cina, pasti barang yang dijual bakalan lebih laris. Tapi pedagangnya skeptis banget sama apa yang saya bilang, bahkan ngga percaya. Iyuh ya udah, saya aja yang bukan pedagang ngerti, malah yang pedagang beneran masa bodoh kalo laba kecil laris lebih baik. Tapi yang bikin kecewa, malah mereka pilih laba tinggi ngga laku-laku. Temen-temen coba liat deh realitas kayak gitu, banyak banget di sekitar kita (waa??)
Oh ya, saya lupa. Pernah juga guru ekonomi SMP bilang, dagangan lebih laku kalo misalnya, di tengah masalah mahalnya bahan baku, pedagang harusnya menaikkan harga jual tanpa mengurangi kuantitas. Daripada harga tetap tapi kuantitas dikurangi, atau malah harga lebih mahal, kuantitas juga dikurangi. Berabe dong kayak gitu, cepat atau lambat pelanggan pada kabur.
Gitu aja sih cerita pengalaman saya soal laba (agak ekonomi dikit). Ada bukti jelas kalo laba kecil akan lebih digemari pembeli daripada laba tinggi tapi pembeli akan pergi jika ada toko yang punya prinsip dagang Cina J

P.S.: Just for fun, tanpa niat SARA atau semacamnya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar