Rabu, 24 Juli 2013

Traditional Games


                Teknologi-teknologi yang berkembang sekarang ini emang memeudahkan banget pekerjaan manusia dan  tidak jarang juga ada yang merugikan. Perkembangan teknologi juga berdampak ada perubahan permainan anak-anak yang dulunya Cuma permainan tradisional, jadul, dan kuno tanpa sentuhan teknologi sedikitpun, menjadi permainan-perainan canggih dan asik. Tapi saya pernah juga ‘mecicipi’ beberapa ‘sisa jaman’ permainan tradisional. Dulu saya sering banget main beberapa permainan ini. Kuno sih, tapi menegsankan.



1.       Pasaran
Dolanan ini sih khas-nya anak-anak desa. Kalo di tempat saya, pasaran itu bukan kayak pasaran-nya Jawa, tapi lebih ke main pasar-pasaran maksudnya. Kalo di pasar kan ada transaksi jual-beli gitu. Nah begitu juga pasarn ini, ada yang jual ada yang beli. Pasaran ini jualannya ngga ekstrim, paling Cuma nasi-nasian. ‘Nasi’nya pake tanah, sayurnya pake dedaunan, untuk lauknya, sering banget pake batang daun pisang. Atau kalo lagi beruntung sih pake jantung pisang.

2.       Jamuran
Kalo ini emang dolanan tradisional asli.  Di tempat saya sistem permainan jamuran sendiri begini:
Semua pemain ‘humpimpa’ dulu. Itu juga berfungsi buat menyeleksi ‘tersangka’ yang akan dikelilingi nantinya. Setelah didapat melalui ‘humpimpa’ yang alot, ‘tersangka’—yang kalah humpimpa—akan dikelilingi sama teman yang lain sambil bernyanyi lagu permainan jamuran sampe lagunya selesai (saya lupa lagunya kalo mau kasih catatan lirik ^_^). Kao lagunya udah selesai, ‘tersangka’ bakal mengajukan permintaan yang wajib diikuti sama yang lain. Biasanya sih yang aneh dan niatnya ngerjain. Misalnya yang lain harus menghadap tembok dan mengagkat seelag kakinya ke belakang buat digelitiki sama ‘tersangka’.

3.       Gobak sodor
Yang ini juga masuk kategori permainan  tradisional tapi berskala nasional (kayaknya sih gitu ^_^). Gobak sodor versi saya dan teman-teman sih biasanya sejumlah orang yang main akan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing perwakilan kelompok suit untuk menentukan siapa yang ada di garis neraka—yang sebelumnya udah dibuat dengan dibentuk beberapa bagian persegi yang tersangkanya harus berlari di seputar garis neraka untuk meraih badan lawan yang masuk ke persegi—dengan tampang nyebelin ^_^. Kalo saah satu orang dari kelompok lawan tersentuh, semua orang harus menjadi tersangka.

4.       Gathengan  
Di tempat saya sih nyebutnya gitu. Permainan ini ngga pake alat apapun kecuali beberapa batu. Satu batu buat pegangan pemain. Beberapa batu yang lain ditata biasa. Jadi batu yang jadi peganagn harus digenggam terus jangan sampai jatuh. Selama mengambil batu yang ditata, batu pegangan harus dilempar ke udara. Pelemparannya ngga perlu jauh-jauh, yang penting kalo batu target udah di genggaman, batu pegangan juga harus udah digenggam lagi. Mirip-mirip kayak bekelan gitu. Kalo bekelan kan pegangannya pake balon padat kecil, targetnya pake besi—dengan bentuk absurd itu—yang iasanya 4-5 target.

5.       Cublak-cublak suweng
Cublak-cublak suweng juga merupakan produk perminan tradisonal. Jadi seperti biasa, semua orang yang ikut bermain harus humpimpa hingga ditemukan siapa yang akan menjadi penebak (biasanya sih dikerjain ^_^). Penebaknya harus dalam posisi membungkuk ke lantai. Sedangkan yang lain menengadahkan sebelah tangannya untuk disandarkan di punggung penebak. Salah seorang memutarkan kerikil di tangan masing-masing pemain. Kalo lagu cublak-cublak suweng udah selesai, peebak harus menebak disembunyikannya kerikil di salah satu tangan. Misalnya, penebak berhasil mengetahui dimana kerikil itu—di tangan seseorang—orang yang benar memegang kerikil itu akan menjadi penebak selanjutnya.

6.       Dakon / congklak
Di tempat saya permainannya sih disebut dakon. Kalo di wilayah lain mungkin congklak. Dakon ini permainan yang pake media. Medianya berupa beberapa lubang yang ujung kanan kirinya lubang besar untuk menampung biji-bijian pasangannya lubang-lubang itu. Saya sih lupa sistem permainannya kayak apa ^_^ Biar lebih clear, searching aja di google.

7.       Kalo permainan yang di luar Indonesia pake lagu “London bridge has falling down” itu saya ngga ngerti nama perainannya apa, tapi dulu waktu masih kecil sering banget main itu. Dimana dua orang gandengan tangan membentuk semacam gapura sambil nyanyi—lagunya apa lupa—dan kalo lagunya udah selesai, dua orang tadi menangkap seseorang.

8.       Ada juga permainan yang medianya pake lidi dipotong-potong. Ada yang dipotong lurus biasa dan ada yang dipotong untuk dibentuk kayak cangkul—digunakan untuk mengambil lidi lurus yang nyempil—tapi biasanya Cuma beberapa. Setiap potongan lidi ada nilainya masing. Misalnya yang lidi lurus bernilai 10, sedangkan lidi cangkul bernilai 20 atau mungkin lebih banyak. Jadi, sistem permainan ini tuh, semua potongan lidi disebar dalam garis persegi. Potongan lidi-lidi yang disebar tidak boleh meewati batas garis atau keluar jalur. Kalo ada harus disembunyikan sama si penyebar lidi tadi (abis itu gimana, saya lupa ^_^).

9.       Permainan lainnya sih just for fun. Ngga ada yang dikerjain atau yang ngerjain. Biasanya Cuma bisa tiga orang yang main. Jadi, salah satu kaki diangkat ke belakang. Dua orang pertama harus mengaitkan kaki mereka. Lalu pemain terakhir mengaitkan kakinya yang berfungsi sebagai kunci-an. Kalo saling kait-mengait udah selesai, ketiganya berputar sambil menyanyikan sebuah lagu—tradisional juga—buat mempertahankan kaitan kaki-kaki.

Sebenarnya sih masih banyak permainan tradisional yang lain. Tapi yang sering saya mainkan waktu kecil Cuma bebrapa permainan itu. No electric, no elektronik, no internet, no gadget. Biar ngga ada sedikitpun teknologi dalam permainan-permainan itu, tapi tetap fun dan menghibur. Kalo menurut saya sih, yang masa kecilnya pernah ‘mencicipi’ permainan tradisional, masa kecilnya itu bahagia banget ^_^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar