Teknologi-teknologi yang
berkembang sekarang ini emang memeudahkan banget pekerjaan manusia dan tidak jarang juga ada yang merugikan. Perkembangan
teknologi juga berdampak ada perubahan permainan anak-anak yang dulunya Cuma permainan
tradisional, jadul, dan kuno tanpa sentuhan teknologi sedikitpun, menjadi
permainan-perainan canggih dan asik. Tapi saya pernah juga ‘mecicipi’ beberapa ‘sisa
jaman’ permainan tradisional. Dulu saya sering banget main beberapa permainan
ini. Kuno sih, tapi menegsankan.
1.
Pasaran
Dolanan ini sih khas-nya anak-anak desa. Kalo di
tempat saya, pasaran itu bukan kayak pasaran-nya Jawa, tapi lebih ke main pasar-pasaran
maksudnya. Kalo di pasar kan ada transaksi jual-beli gitu. Nah begitu juga
pasarn ini, ada yang jual ada yang beli. Pasaran ini jualannya ngga ekstrim,
paling Cuma nasi-nasian. ‘Nasi’nya pake tanah, sayurnya pake dedaunan, untuk
lauknya, sering banget pake batang daun pisang. Atau kalo lagi beruntung sih
pake jantung pisang.
2.
Jamuran
Kalo ini emang dolanan tradisional asli. Di tempat saya sistem permainan jamuran
sendiri begini:
Semua pemain ‘humpimpa’ dulu. Itu juga berfungsi
buat menyeleksi ‘tersangka’ yang akan dikelilingi nantinya. Setelah didapat
melalui ‘humpimpa’ yang alot, ‘tersangka’—yang kalah humpimpa—akan dikelilingi sama
teman yang lain sambil bernyanyi lagu permainan jamuran sampe lagunya selesai (saya
lupa lagunya kalo mau kasih catatan lirik ^_^). Kao lagunya udah selesai, ‘tersangka’
bakal mengajukan permintaan yang wajib diikuti sama yang lain. Biasanya sih
yang aneh dan niatnya ngerjain. Misalnya yang lain harus menghadap tembok dan mengagkat
seelag kakinya ke belakang buat digelitiki sama ‘tersangka’.
3.
Gobak sodor
Yang ini juga masuk kategori permainan tradisional tapi berskala nasional (kayaknya sih
gitu ^_^). Gobak sodor versi saya dan teman-teman sih biasanya sejumlah orang
yang main akan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing perwakilan kelompok
suit untuk menentukan siapa yang ada di garis neraka—yang sebelumnya udah
dibuat dengan dibentuk beberapa bagian persegi yang tersangkanya harus berlari
di seputar garis neraka untuk meraih badan lawan yang masuk ke persegi—dengan tampang
nyebelin ^_^. Kalo saah satu orang dari kelompok lawan tersentuh, semua orang
harus menjadi tersangka.
4.
Gathengan
Di tempat saya sih nyebutnya gitu. Permainan ini
ngga pake alat apapun kecuali beberapa batu. Satu batu buat pegangan pemain. Beberapa
batu yang lain ditata biasa. Jadi batu yang jadi peganagn harus digenggam terus
jangan sampai jatuh. Selama mengambil batu yang ditata, batu pegangan harus
dilempar ke udara. Pelemparannya ngga perlu jauh-jauh, yang penting kalo batu
target udah di genggaman, batu pegangan juga harus udah digenggam lagi.
Mirip-mirip kayak bekelan gitu. Kalo bekelan kan pegangannya pake balon padat
kecil, targetnya pake besi—dengan bentuk absurd itu—yang iasanya 4-5 target.
5.
Cublak-cublak suweng
Cublak-cublak suweng juga merupakan produk perminan
tradisonal. Jadi seperti biasa, semua orang yang ikut bermain harus humpimpa
hingga ditemukan siapa yang akan menjadi penebak (biasanya sih dikerjain ^_^). Penebaknya
harus dalam posisi membungkuk ke lantai. Sedangkan yang lain menengadahkan
sebelah tangannya untuk disandarkan di punggung penebak. Salah seorang
memutarkan kerikil di tangan masing-masing pemain. Kalo lagu cublak-cublak
suweng udah selesai, peebak harus menebak disembunyikannya kerikil di salah
satu tangan. Misalnya, penebak berhasil mengetahui dimana kerikil itu—di tangan
seseorang—orang yang benar memegang kerikil itu akan menjadi penebak
selanjutnya.
6.
Dakon / congklak
Di tempat saya permainannya sih disebut dakon. Kalo
di wilayah lain mungkin congklak. Dakon ini permainan yang pake media. Medianya
berupa beberapa lubang yang ujung kanan kirinya lubang besar untuk menampung
biji-bijian pasangannya lubang-lubang itu. Saya sih lupa sistem permainannya kayak
apa ^_^ Biar lebih clear, searching aja di google.
7.
Kalo permainan yang di luar
Indonesia pake lagu “London bridge has falling down” itu saya ngga ngerti nama
perainannya apa, tapi dulu waktu masih kecil sering banget main itu. Dimana dua
orang gandengan tangan membentuk semacam gapura sambil nyanyi—lagunya apa lupa—dan
kalo lagunya udah selesai, dua orang tadi menangkap seseorang.
8.
Ada juga permainan yang
medianya pake lidi dipotong-potong. Ada yang dipotong lurus biasa dan ada yang
dipotong untuk dibentuk kayak cangkul—digunakan untuk mengambil lidi lurus yang
nyempil—tapi biasanya Cuma beberapa. Setiap potongan lidi ada nilainya masing. Misalnya
yang lidi lurus bernilai 10, sedangkan lidi cangkul bernilai 20 atau mungkin
lebih banyak. Jadi, sistem permainan ini tuh, semua potongan lidi disebar dalam
garis persegi. Potongan lidi-lidi yang disebar tidak boleh meewati batas garis
atau keluar jalur. Kalo ada harus disembunyikan sama si penyebar lidi tadi
(abis itu gimana, saya lupa ^_^).
9.
Permainan lainnya sih just
for fun. Ngga ada yang dikerjain atau yang ngerjain. Biasanya Cuma bisa
tiga orang yang main. Jadi, salah satu kaki diangkat ke belakang. Dua orang
pertama harus mengaitkan kaki mereka. Lalu pemain terakhir mengaitkan kakinya
yang berfungsi sebagai kunci-an. Kalo saling kait-mengait udah selesai,
ketiganya berputar sambil menyanyikan sebuah lagu—tradisional juga—buat mempertahankan
kaitan kaki-kaki.
Sebenarnya sih masih banyak permainan tradisional yang
lain. Tapi yang sering saya mainkan waktu kecil Cuma bebrapa permainan itu. No
electric, no elektronik, no internet, no gadget. Biar ngga
ada sedikitpun teknologi dalam permainan-permainan itu, tapi tetap fun dan menghibur.
Kalo menurut saya sih, yang masa kecilnya pernah ‘mencicipi’ permainan
tradisional, masa kecilnya itu bahagia banget ^_^.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar